Anak yatim, ialah anak yang ditinggal mati ayahnya atau ayah dan ibunya. Dalam bahasa indonesia, anak yang ditinggal mati ayah dan ibunya disebut yatim piatu. Dinamakan anak yatim, selama anak tersebut belum mencapai usia dewasa. Anak yatim itu sangat memerlukan kasih sayang sebagai ganti dari kasing sayang ayahnya. Mereka juga sangat memerlukan pertolongan orang lain, karena ayah yang bertanggung jawab membiayai hidupnya telah tiada.
Anak yatim merasa sedih, bila anak-anak lain mempunyai ayah tempat ia menyampaikan sesuatu. Karena itu islam sangat memperhatikan nasib anak yatim ini.
Adapun cara mengurus anak yatim adalah sebagai berikut :
- Hartanya, Harta anak yatim baik yang diperoleh sebagai harta warisan dari ayahnya maupun diperoleh dengan cara lainnya, wajib dipelihara oleh walinya dengan sebaik-baiknya. Wali anak yatim tidak boleh memakan harta anak yatim, kecuali jika wali itu tidak mampu. Itupun hanya diperbolehkan untuk mencukupi kebutuhan, tidak boleh berlebih-lebihan. Memakan harta anak yatim secara dzalim hukumnya haram. Didalam Al QUr’an diterangkan bahwa orang yang memakan harta anak yatim secara sewenang-wenang dzakim, sesungguhnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk kedalam api yang menyala-nyala.
- Keadaan diri anak yatim
setiap anak yatim perlu diperhatikan, bukan hanya keperluan hidupnya tetapi juga pendidikannya. Bagi anak yatim yang mempunyai harta cukup, biaya untuk hidup dan pendidikannya itu dapat diambil dari harta peninggalan orang tuanya.
Bagi anak yatim yang tidak mampu, kewajiban umat islam untuk memelihara dan mendidiknya, dengan jalan mengasuhnya langsung atau memelalui asuhan.
Keutamaan Mengurus Anak Yatim dalam Pandangan Islam
Mengurus atau mengasuh anak yatim adalah pekerjaan yang sangat mulia disisi Allah dan amat besar pahalanya. Nabi bersabda bahwa orang yang mengurus anak yatim itu, kelak disurga berada dekat dengan beliau, seperti dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah. Sabdanya :
“Saya dan orang yang memelihara anak yatim, (kelak) disurga seperti ini (Nabi SAW mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan keduanya) (HR Bukhari).