Banner Metode Rubaiyat
Peserta Lokakarya Rubaiyat Indonesia, Peluncuran buku mengghafal surat pilihan dengan metode Takrir Rubaiyat

“Ilmu itu cahaya”, demikian petuah masyhur dari para Hukama’ dan orang-orang saleh. Ibarat seorang yang berjalan di kegelapan dia akan membutuhkan pelita sebagai penerangnya, agar tak tersesat.

Begitupula dalam kehidupan, setiap kita membutuhkan ilmu agar dapat menuntun kita dalam menjalaninya.  Ilmu juga akan membuat hidup seseorang  lebih bermakna,penuh semangat, dan bahagia.  Bahkan Allah sendiri yang menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang tak berilmu.

Dalam kenyataannya, seorang yang berilmu ia akan menjadi panutan.  Perkataannya dijadikan rujukan, keberadaannya senantiasa dinantikan, dan dapat memberikan jalan mendapatkan hidayah bagi seseorang.

Begitu pentingnya ilmu ini bahkan para nabi mulia pun disuruh untuk selalu memperbaharui ilmunya dengan memohon petunjuk dari Allah .

”Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: ’Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan,” (QS Thahaa: 114).

Dengan ilmu yang Allah berikan seseorang dapat memberikan petunjuk pada sesama akan gelapnya kebodohan kepada cahaya islam.  Minadzzulumati illa nuur.  Dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah saangat memuliakan orang yang berada dilingkaran ilmu,memberi kesemapatan orang lain mencari ilmu, dengan adab majlisnya, dan berkenan untuk menginggikan derajatnya.

. ” Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ”Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS al Mujadilah: 11). 

Hakikat ilmu itu semua datangnya dari Allah yang Al ‘Alim. Manusia diberikan kesempatan untuk mempelajarinya, dengan perintah agar dapat memanfaatkannya dijalan kebaikan.  Dan sebaik-baik ilmu bagi manusia adalah ilmu agama yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya.

Baca Juga  Qiyamul Lail (Shalat Malam)

Karena itu pula Rasulullah saw pernah bersabda tentang ilmu yang paling baik untuk manusia. ”Barangsiapa yang dikehendaki Allah menerima kebaikan, maka Dia akan memberinya kemampuan untuk memahami ilmu agama,” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi.)

Bagi mereka para pencari ilmu Allah melalui sabda Rasulnya, menjanjikan banyak kemuliaan.  Karena beratnya jalan yang ditempuh para pencari ilmu.  Kelelahan, kebosanan, kadang menghinggapinya,hingga melemahkan tekad untuk terus mencari ilmu.
Kemuliaan bagi orang yang memiliki dan mengamalkan ilmu,akan diiangkat tinggi derajatnya di muka bumi.

Disanjung harum namanya oleh penduduk langit. Bahkan para penuntut ilmu diberi perlindungan khusus oleh malaikat yang membentangkan sayapnya untuk menaungi. ”Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridha pada para pencari ilmu.,” (HR Abu Daud & Tirmidzi).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah pernah bersabda, ”Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memberikan kemudahan jalan baginya untuk menuju surga.”

Rasulullah saw., bersabda: “Sesungguhnya Allah swt., para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di lautan benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan”. (HR. Tirmidzi). Nabi juga bersabda: “Terdapat dua golongan dari umatku, apabila keduanya baik, maka manusia pun menjadi baik dan jika keduanya rusak maka rusaklah semuanya, yakni golongan penguasa dan ulama” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dan Abu Naim dengan sanad yang lemah).

Nasihat Imam Algahzali tentang ilmu

Dalam bukunya yang fenomenal Ihya’ Ulumuddin, Imam Alghazali berpesan,“Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah”, demikian nasehat kaum bijak. Maka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata: “Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah”. Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa ‘kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah’, berarti bahwa “Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya”. 

Karena mencari ilmu itu bagian dariibadah, maka semunya harus diniatkan untuk mendapat keridhoan Allah.  Karena ilmu yang hanya berorientasi pada dunia akan memberikan kerusakan dan akan mencelakakan.  Rasulullah saw., bersabda: “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah)

Baca Juga  Tiga Golongan yang akan menjadi Penghuni Surga

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan memudahkan dalam mendapatkan ilmu ilmu yang bermanfaat

Yunita Rokhmah /Direksi Media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here